A Letter to My Self


Kali kedua bergulat dengan tema. Senyum manis dulu 😊 
Rasanya tak mampu mengapresiasi diri, 
terkadang menilai tak se-objektif mengenal.

Baiklah. Bagaimana jika Sang Pencipta tidak menghendaki lagi? 
Ia sibukkan dengan urusan dunia, urusan anak-anak, 
urusan karir, dan urusan menjalankan perniagaan?

Alangkah merugi sebab semua akan ditinggalkan, jelas tidak dibawa mati. 
Tujuan kita diciptakan adalah untuk beramal, beribadah, 
dan menyembah kepada Allah.

Mungkin kita cemburu apabila melihat orang lain lebih dari kita 
dari segi gaji, pangkat, harta, jabatan, rumah besar, atau mobil mewah. 
Mengapa kita tidak pernah cemburu 
melihat ilmu agama orang lain dalam ketaatan?

Apakah pernah cemburu melihat mereka lebih banyak amalannya? 
Tidak kah cemburu melihat orang lain qiyammul lail dan bermunajat kepada Allah.
Jarang kita cemburu melihat mereka khatam AlQuran. 
Jarang cemburu melihat mualaf yang paham isi AlQuran. 
Jarang cemburu melihat mereka menegakkan akidah 
dan jihad di jalan Allah.

Sungguh, panggilan Illahi semakin dekat. 
Patut bermuhasabah. 
Perjalanan pun sangat jauh, 
tidak kembali untuk selama-lamanya. 
Bahkan diri ini tak mampu menjalani sendirian.

Hidup di dunia menentukan kehidupan yang kekal nanti. 
Tambahlah bekal dengan iman, ibadah, dan amal baik. 
Mudah-mudahan hidup kita selamat di dunia dan akhirat. 
Selalu bermanfaat untuk umat. 
Semoga Allah meridhoi dan memasukkan kita 
ke dalam syurgaNya. (Aamiin...).



Love
Saya, yang masih harus banyak belajar.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Me Time

Kumpulan Soal Mengenai Pemakaian Huruf dan Penulisan Kata