Sharing yang berujung cerita, Si Anak Tukang Kayu.


Alkisah, sebutlah Anak Tukang Kayu.
Ia ditugaskan menjaga makam ayahnya.
Tanah merah, masih basah.
Tiga hari menjelang,
sang anak berjumpa dengan malaikat.
Ia terkejut, namun tak dapat mengelak.
Sang malaikat bertanya, "Sedang apa?"
Anak Tukang Kayu pucat pasi,
"Me... nung... gu... Emm... Ayyaa... hhh..."
Gemetarlah ia, dari kaki hingga gigi.

Malaikat itu menghampiri kembali,
terlihat sorot kemilau dari pantulan cahaya.
Anak tukang kayu memicingkan mata.

"Apa yang kau punya?" tanya Malaikat.
"Aku hanya punya ini." Seraya menyodorkan kapak usang.

"Ini yang kau punya?? Hanya ini?"
"Ya, hanya ini peninggalan ayahku."
"Untuk apa kapak itu?"
"Untuk menebang pohon, memilahnya, lalu dijual, sisa rantingnya aku kumpulkan untuk alat perapian." ujarnya.
"Tak perlu sombong, hanya kapak usang. Apa yang bisa kau perbuat hingga kapak itu bermanfaat?"

Anak Tukang Kayu pun tertegun,
hingga cahaya itu memudar dan keadaan kembali gulita.
Apa yang mesti disombongkan?
Hanya kapak ...
Pun usang ...

Untuk apa? Masih banyak penghisaban dari harta-harta kita yang minim kebermanfaatannya. Ini hanya sepenggal kisah dari seorang sahabat yang teraniaya. Sahabat, doamu sungguh didengar Allah. Langsung tersampaikan tanpa perantara. Serahkan kembali pada-Nya, selama kau baik dan benar maka tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dedikasi tinggi itu mahal. Aku baru menemukan orang tersabar yang mampu menahan tekanan bertubi-tubi. Ah, pelajaran berharga yang wajib diabadikan.

Sharing yang berujung cerita, 
kisah yang terlontar dari lisanmu petang kemarin 😊 
sikon begitu masih sempat-sempatnya berkarya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Me Time

Kumpulan Soal Mengenai Pemakaian Huruf dan Penulisan Kata